Text
Transmisi Arus Searah Tegangan Tinggi
Perkembangan peralatan dan teknologi elektronika daya dalam sistem tenaga listrik makin pesat. Pemulihan pelayanan tenaga listrik harus secepat mungkin bila ada gangguan atau kerusakan di dalam sistem tenaga listrik. Salah satu peranan sistem transmisi arus searah (DC) adalah mengirimkan tenaga listrik secara cepat ke sistem AC yang membutuhkan pasokan. Frekuensi sistem AC pemasok tidak perlu sama dengan frekuensi sistem AC yang membutuhkan pasokan tenaga listrik.
Konverter AC ke DC (rectifier) dan konverter DC ke AC (inverter) merupakan peralatan utama di dalam sistem transmisi DC. Sistem tenaga listrik AC dengan frekuensi f1 misalnya, disearahkan dahulu tegangannya oleh rectifier menjadi tegangan searah (DC), kemudian melalui saluran transmisi DC dihubungkan ke sistem tenaga listrik AC yang lain melalui inverter. Konfigurasi saluran transmisi DC dapat berupa satu kutub atau monopolar, dua kutub atau bipolar, adu-punggung (back to-back), dan homopolar. Pembalikan daya listrik DC dari sisi pengirim ke sisi penerima dapat dilakukan dengan cepat. Setiap konverter dapat disusun dari 6 tiristor sistem jembatan (diberi simbol 6P), atau 12 tiristor (2 buah 6P tersusun seri), atau 24P (4 buah 6P tersusun seri), atau lebih banyak lagi. Pengaturan tegangan saluran transmisi DC dilakukan dengan mengatur sudut penyulutan konverter. Pembalikan daya DC dapat dilakukan dengan pembalikan polaritas tegangan DC dengan arah arus tetap.
Gangguan-gangguan konverter 6P di sisi rectifier atau di sisi inverter dapat memengaruhi penyaluran daya DC yang dikirimkan melalui saluran transmisi DC tersebut. Saluran balik arus DC dapat melalui tanah (ground return) atau melalui saluran penghantar tegangan rendah atau melalui manver saluran transmisi tersebut, misalnya sistem saluran paralel metallic retum. Pengendalian operasi sistem transmisi DC dịperlukan untuk menjaga kontinuitas operasi sistem transmisi DC.
Sistem transmisi DC biasanya 2 terminal (1 rectifier di Gl pengirim dan 1 inverter di Gl penerima). Sistem transmisi DC banyak terminal digunakan untuk sistem tenaga listrik yang sangat besar. Hubung-singkat yang terjadi di saluran transmisi DC diatasi dengan beroperasinya rele-rele proteksi yang mengoperasikan PMT DC. Problem utamanya yaitu pemutusan arus DC yang besar. PMT jenis vakum sesuai digunakan di sistem transmisi DC.
Ruang bebas dan jarak bebas harus diperhatikan dalam saluran transmisi DC. Elektrode pentanahan menggunakan elektrode tanah, elektrode pantai, dan elektrode laut. Kabel bawah laut dan kabel tanah juga digunakan untuk transmisi DC seperti pada sistem transmisi AC. Gangguan surja petir merupakan gangguan tegangan-lebih yang berasal dari luar. Proteksi terhadap sambaran petir sama seperti pada sistem transmisi AC.
No other version available